Wednesday, 18 August 2010

लापोर्कन सजा pada तुहन (सेबुः ओतोकृतिक. रामधन सेरिएस)

Ramadhan, bulan yang didambakan para umat muslim karena bulan ini penuh berkah dan ampunan. Pintu surga dibuka lebar-lebar. Pintu neraka ditutup rapat-rapat. Bulan istimewa dengan ragam berlipat pahala. Umat muslim berlomba berbuat kebajikan, bahkan mereka yang pada bulan-bulan biasanya jarang (tidak pernah) sodakoq dan infaq mendadak jadi orang dermawan.

Ramadhan berselimut nuansa kemerdekaan naif bila sekedar menebar sedekah tapi tidak memerdekaan diri dari segala penyakit hati. Sikap iri, dengki, takabur, riya' dan macam saudaranya. biasanya ragam sikap itu diterjemahkan dalam program rasan-rasan dengan kawan sejawat.

Kadang kala, selain sikap-sikap tersebut ada hal lain yang merusak hati meski kita di posisi pelaku, melainkan di posisi orang yang dirugikan. Sangat manusiawi bila kita jengkel dan dongkol dalam hati. Untuk menghilangkan rasa itu kita share denmgan teman sejawat kita. Bagi saya, itu bukan menembah plong di dada tapi malah menambah sakit hati kita.

Akibatnya fatal, kita hanya mendapat rasa lapar dan haus saja. Rugi, ya ibarat orang jualan kita tak dapat laba. investasi di akhiratpun mengalami penyusutan. oh.. tidak beruntunglah kita.

Sebaiknya, kita laporkan saja pada Tuhan. Lebih bersih kan? Tuhan suka dengan metode dialogis asalkan kita juga sopan. Tuhan selalu bersama kita.

Thursday, 12 August 2010

Renungan Singkat: sebuah otokritik ( Ramadhan series)

Manusia, diciptakan oleh Tuhan dari segumpal darah yakni Qolbu.Pernakah kita berfikir bahwa dunia adalah persinggahan sementara? Pernakah kita berfikir dunia adalah ladang yang harus kita tanam dengan benih-benih tanaman berbibit unggul? Pernakah kita berfikir tanaman yang kita tanam kita rawat dan kita pupuk sehingga pada suatu ketika bisa dipanen dengan hasil yang sangat luar biasa menakjubkan?. Lantas apa korelasinya dengan Qolbu? Tidak lain adalah ada pada kapasitas berfikir kita dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi dan pertanyaan spiritual yang yang lain.

Alam, ya alam diciptakan untuk memenuhi segala apa yang dibutuhkan oleh manusia. Alam ditakdirkan untuk memberikan sarinya. Alam sungguh menyimpan simbol-simbol KebesaranNYA. Alam adalah representasi ciptaaNYA dengan banyak varian makhluk hidup.

Kita, yap kita adalah manusia. Hidup sebagai manusia harus mencermati isyarat alam. Alam tercipta untuk memberi. Kita adalah makhluk yang diberi. Yang kita miliki adalah pinjaman semata. Bernafas gratis, tanpa dipungut biaya, itu adalah pemberianNYA dan kita hidup dari hasil tolong menolong dari sesama.

Namun, apa yang terjadi?????
Kita berjalam penuh kecongkakan. Kita berjalan dengan menengadahkan wajah. Sombong benar kita???

Kita tak menyadari bahwa sebenarnya kita adalah debu. Butiran debu yang tak berarti apa-apa. Inggat, dalam jagat raya ini banyak sekalim ancaman. Harun Yahya sudah menjelaskan secara ilmiah dalam seri filmnya. Dalam tubuh kita ada organ yang bernama jantung yang selalu berdetak. Lantas bagaimanakah kalau jagad raya ini ada yang keluar diri lintasan orbitnya, nagamana kalau jantunmg kita tidak bisa betroperasi seperti sedia kala?

Uraian sederhana & singkat tersebut adalah renungan yang harus dofikirkan. Janganlah sombong. Mari kita tundukkan diri kita di hadapan Sang MAHA. Carilah sesuatu bekal sebelum benar Malaikat datang menjemput. Carilah Ridho Allah semata, buang keanggkuhan kita dan senantiasa ikhlas serta selalu bersyukur. Ikhlas karena DIA, karena dalam Q.S Adz-Dzariat ayat 56 menyebutkan Allah menciptakan jin dan manusia untuk mengabdi pada NYa.