semua orang pasti pernah muda. Itu tidak lain adalah kodrad yang diberikan oleh sang Pencipta kepada setiap makhluk di bumi ini. Dilahirkan berupa bayi mungil, tumbuh menjadi balita, kemudian remaja, dan beranjak dewasa, setelah itu mengarungi masa tua sampai akhirnya Tuhan akan menyeru kepada malaikatNYA untuk memangil sang hamba.
Di kala lahir manusia tidak bisa berkata-kata. bayi yang tak berdaya hanya cuma bisa menangis dan kethayal-kethayal.
disusui oleh bunda dan di berikan nutrisi tambahan yang dibutuhkan si bayi. Ya, begitulah bayi, semua serba dilayani oleh orang-orang disekitarnya hingga akhirnya tumbuh lebih besar ukurannya diikuti dengan perkembangan seluruh sel-sel dan jaringan pembentuk organ-organ tubuhnya menjadi balita.
Bersemangat untuk meraih apa yang menjadi keinginannya dan tumbuh ketertarikan dengan lawan jenis itulah masa remaja. Masa yang bagi sebagian orang dinilai sebagai masa yang paling indah dalam hidup untuk berpetualang dan mencoba hal-hal baru. Tak jarang masa gemilang ini disalah gunakan oleh banyak orang. Sehingga, pda masa tua mereka(yang sadar) banyak-banyak berbenah diri. Menjalani aktivitas dengan dilandasi nafas spiritualitas. Betapa bijaknya mereka itu, tahu diri atas masa mudanya yang tidak 'berprestasi' dan cenderung ugal-ugalan kemudian 'mereparasi' hidup mereka ke arah hakikat hidup yang sebenarnya.
Sayangnya, semangat untuk mereparasi hidup tidak dimiliki oleh banyak orang. Mak Setya misalnya. bisa dibilang masa mudanya terus berhappy-happy,tak jarang ibunya pun sambat. sekarang giliran Mak Setya yang menjadi ibu, karena kini sudah berkeluarga, punya suami dan anak-anak. Posisi Mak Setya di rumah tangga tidak lain adalah sebagai 'dalang' dalam manajemen ini dan itu, sampai si suami tak berdaya. Wah-wah ketika Mak Setya memberikan instruksi atau meminta sesuatu cepat atau lambat mesti dipenuhi oleh si suami. Misalnya saja mobile Phone alias HaPe. Lha dhala Mak Setya sekarang punya dua HaPe. Hape yang satu biasa saja, HaPe yang satunya terus saja melantunkan lagu-lagu era tempo Gombloh sampai tempo Anang dan Syahrini. Sesekali HaPe itu digunakan untuk menghubungi anaknya yang ada di lain propinsi, namun kebanyakan HaPe itu beralih fungsi seperti radio. Lha gimana setelah pulang bekerja, setelah masak, hingga menjelang tidur terus saja mendengarkan lagu-lagu di HaPe tadi sembari turut bersenandung. Wow Mak Setya, kasihan anak perempuannya yang bernama Rere jadi ngenes mendapati ibunya begitu.
Melihat orang-orang yang beranjak tua pergi ke masjid untuk mendekatkan diri pada Sang Kuasa, Rere hanya mengelus dada. Tapi dalam hati Rere selalu berdoa Allohummaghfirli waliwalidaya .....dst..,
Note:
jika ada kesamaan nama jangan reaktif dulu. ini kan cuma cerita.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment