Desa Maju-Mundur tidak subur, namun tidak gersang pula. Bisa dikatakan lumayan lah kalau untuk ditanami tanaman pokok. mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Itu dulu,sekarang tidak lagi karena semakin modern zaman ini, makin pula orang-orang apalagi pemuda yang pergi ke ladang untuk bercocok tanam. sebagian pemuda sekarang memilih sabagai karyawan di perusahaan. Tapi, jangan dibayangkan mereka duduk tenang di kantor bergelut dengan komputer beserta perangkat-perangkatnya melainkan mereka berada di bagian produksi. bagaimana tidak, lah wong mereka lulusan SD,SMP paling tinggi SMA/ SMK.
Para pemuda desa tadi tidak mau kalah dengan mahasiswa di kampus-kampus. setelah seharian belerja rasa capek, penat dan semacamnya melanda, mereka segarkan lagi dengan ikut mengan bil posisi di Remaja Masjid ataupun di Karang Taruna. Ya.... mereka itu aktivis kampung. Mereka bak primadona atau selebritis kampung. Track record mereka terekam di memori masyarakat, bahkan para orang tua turut bangga kalau anaknya berpacaran dengan sang aktivis kampung tadi.
Mereka juga pahlawan even. Tanpa mereka program di kampung tidak berjalan.Mereka yang merumuskan konsep dan mereka juga yang melaksanakan konsep walau sebenarnya cuma sekedar ceremonial dn minim substansi Tak tertera mana sebagai Streering Committee dan mana Organizing Committee karena mereka tidak mengenal itu. Tak apa lah, adanya mereka, kampung bisa "hidup", dan adanya mereka masyarakar bisa terhibur dan tau hari-hari besar Islam dan Nasional.
Ups, tidak melulu itu. Masih ada lagi,family yang punya cukup duit akan mengirim anak - anak mereka ke Perguruan Tinggi. Anak-anak tersebut pemuda kampus namun juga termasuk pemuda desa, soalnya mereka juga pernah bahkan masih tumbuh dan hidup di lingkungan desa meski sedang mengenyam kehidupan akademis di kampus di tengah glamournya atmosfer kehidupan kota.
Wah-wah, memang dimanapun tempat manusia berpijak, tidak semuanya seragam. Pasti ada yang perbedaan-perbedaan. Itu sudah menjadi Sunnatullah. Artinya begini, ada macam-macam tipe sang pemuda kampus. Pertama, pemuda kampus yang ikut nimbrung jadi aktivis semu di kampung. Dia hanya berposisi sebagai simpatisan, sebab dia tidak bisa inten ikut serta beraktivitas di kampung. tapi dia punya social sense yang tinggi. Kedua, Sang pemuda kampus rumahan. Manakala dia di rumah, dia enggan ikut ambil bagian di masyarakat. Mungkin dia berfikiran bahwa kalaudia ikut nimbrung topik pembicaraannya berbeda. atau ada yang lain, misalnya pemuda desa meresa 'risih' karena secara level pendidikan si pemuda kampus tadi punya nilai lebih. Hal itu, menyebabkan pemuda kampus hanya stay at home dan keluar rumah kalau ada kepentingan saja. ketiga, Sang pemuda kampus yang arogan, bisa dibilang ekstrim juga. dia begitu sombong, menganggap lingkungan desanya tidak cocok baginya karena dia merasa benar sendiri. Parahnya, si pemuda kampus tadi juga merasa tidak cocok dengan saudara kandungnya. Dia seringkali membanting pintu jika saudara kandungnya tadi berada di sekitarnya,kerapkali meludah meski tidak keluar ludah ketika saudara kandungnya berjalan di depannya, dan tidak jarang membuang muka saat berpapasan. Kasihan sekali si saudara kandung ini seperti sampah dan manusia najis. Wow keren kan? Ironisnya baik ibu dan bapaknya tidak pernah keluar nasihat akan hal itu.Ada hal lain bahwa dia sebenarnya bukan pemuda yang mandiri.Pagi hari masih di bangunkan, mandi mesti pakai air hangat yang di masak dan dituangkan ibunya ke dalam ember mandinya. oia, kadang-kadang ibunya juga mencuci dan menyetrika bajunya, macam pangeran saja dia. Selain kuliah dia juga punya aktivitas lain yakni blakraan.
Nah, itulak klasifikasi pemuda-pemuda di desa maju-mundur. Tapi kalau ada klasifikasi lain ya monggo silahkan saja. Special sebutan untuk pemuda kampus yang ketiga yaitu SI TUAN MUDA.
Note:
ini kan cuma cerita, jadi jangn tersinggung jikalau ada yang punya karakter mirim seperti di atas. yang terpenting ayo kita berbenah diri. Okay....
Saturday, 12 June 2010
Saturday, 5 June 2010
selalu bersenandung
semua orang pasti pernah muda. Itu tidak lain adalah kodrad yang diberikan oleh sang Pencipta kepada setiap makhluk di bumi ini. Dilahirkan berupa bayi mungil, tumbuh menjadi balita, kemudian remaja, dan beranjak dewasa, setelah itu mengarungi masa tua sampai akhirnya Tuhan akan menyeru kepada malaikatNYA untuk memangil sang hamba.
Di kala lahir manusia tidak bisa berkata-kata. bayi yang tak berdaya hanya cuma bisa menangis dan kethayal-kethayal.
disusui oleh bunda dan di berikan nutrisi tambahan yang dibutuhkan si bayi. Ya, begitulah bayi, semua serba dilayani oleh orang-orang disekitarnya hingga akhirnya tumbuh lebih besar ukurannya diikuti dengan perkembangan seluruh sel-sel dan jaringan pembentuk organ-organ tubuhnya menjadi balita.
Bersemangat untuk meraih apa yang menjadi keinginannya dan tumbuh ketertarikan dengan lawan jenis itulah masa remaja. Masa yang bagi sebagian orang dinilai sebagai masa yang paling indah dalam hidup untuk berpetualang dan mencoba hal-hal baru. Tak jarang masa gemilang ini disalah gunakan oleh banyak orang. Sehingga, pda masa tua mereka(yang sadar) banyak-banyak berbenah diri. Menjalani aktivitas dengan dilandasi nafas spiritualitas. Betapa bijaknya mereka itu, tahu diri atas masa mudanya yang tidak 'berprestasi' dan cenderung ugal-ugalan kemudian 'mereparasi' hidup mereka ke arah hakikat hidup yang sebenarnya.
Sayangnya, semangat untuk mereparasi hidup tidak dimiliki oleh banyak orang. Mak Setya misalnya. bisa dibilang masa mudanya terus berhappy-happy,tak jarang ibunya pun sambat. sekarang giliran Mak Setya yang menjadi ibu, karena kini sudah berkeluarga, punya suami dan anak-anak. Posisi Mak Setya di rumah tangga tidak lain adalah sebagai 'dalang' dalam manajemen ini dan itu, sampai si suami tak berdaya. Wah-wah ketika Mak Setya memberikan instruksi atau meminta sesuatu cepat atau lambat mesti dipenuhi oleh si suami. Misalnya saja mobile Phone alias HaPe. Lha dhala Mak Setya sekarang punya dua HaPe. Hape yang satu biasa saja, HaPe yang satunya terus saja melantunkan lagu-lagu era tempo Gombloh sampai tempo Anang dan Syahrini. Sesekali HaPe itu digunakan untuk menghubungi anaknya yang ada di lain propinsi, namun kebanyakan HaPe itu beralih fungsi seperti radio. Lha gimana setelah pulang bekerja, setelah masak, hingga menjelang tidur terus saja mendengarkan lagu-lagu di HaPe tadi sembari turut bersenandung. Wow Mak Setya, kasihan anak perempuannya yang bernama Rere jadi ngenes mendapati ibunya begitu.
Melihat orang-orang yang beranjak tua pergi ke masjid untuk mendekatkan diri pada Sang Kuasa, Rere hanya mengelus dada. Tapi dalam hati Rere selalu berdoa Allohummaghfirli waliwalidaya .....dst..,
Note:
jika ada kesamaan nama jangan reaktif dulu. ini kan cuma cerita.
Di kala lahir manusia tidak bisa berkata-kata. bayi yang tak berdaya hanya cuma bisa menangis dan kethayal-kethayal.
disusui oleh bunda dan di berikan nutrisi tambahan yang dibutuhkan si bayi. Ya, begitulah bayi, semua serba dilayani oleh orang-orang disekitarnya hingga akhirnya tumbuh lebih besar ukurannya diikuti dengan perkembangan seluruh sel-sel dan jaringan pembentuk organ-organ tubuhnya menjadi balita.
Bersemangat untuk meraih apa yang menjadi keinginannya dan tumbuh ketertarikan dengan lawan jenis itulah masa remaja. Masa yang bagi sebagian orang dinilai sebagai masa yang paling indah dalam hidup untuk berpetualang dan mencoba hal-hal baru. Tak jarang masa gemilang ini disalah gunakan oleh banyak orang. Sehingga, pda masa tua mereka(yang sadar) banyak-banyak berbenah diri. Menjalani aktivitas dengan dilandasi nafas spiritualitas. Betapa bijaknya mereka itu, tahu diri atas masa mudanya yang tidak 'berprestasi' dan cenderung ugal-ugalan kemudian 'mereparasi' hidup mereka ke arah hakikat hidup yang sebenarnya.
Sayangnya, semangat untuk mereparasi hidup tidak dimiliki oleh banyak orang. Mak Setya misalnya. bisa dibilang masa mudanya terus berhappy-happy,tak jarang ibunya pun sambat. sekarang giliran Mak Setya yang menjadi ibu, karena kini sudah berkeluarga, punya suami dan anak-anak. Posisi Mak Setya di rumah tangga tidak lain adalah sebagai 'dalang' dalam manajemen ini dan itu, sampai si suami tak berdaya. Wah-wah ketika Mak Setya memberikan instruksi atau meminta sesuatu cepat atau lambat mesti dipenuhi oleh si suami. Misalnya saja mobile Phone alias HaPe. Lha dhala Mak Setya sekarang punya dua HaPe. Hape yang satu biasa saja, HaPe yang satunya terus saja melantunkan lagu-lagu era tempo Gombloh sampai tempo Anang dan Syahrini. Sesekali HaPe itu digunakan untuk menghubungi anaknya yang ada di lain propinsi, namun kebanyakan HaPe itu beralih fungsi seperti radio. Lha gimana setelah pulang bekerja, setelah masak, hingga menjelang tidur terus saja mendengarkan lagu-lagu di HaPe tadi sembari turut bersenandung. Wow Mak Setya, kasihan anak perempuannya yang bernama Rere jadi ngenes mendapati ibunya begitu.
Melihat orang-orang yang beranjak tua pergi ke masjid untuk mendekatkan diri pada Sang Kuasa, Rere hanya mengelus dada. Tapi dalam hati Rere selalu berdoa Allohummaghfirli waliwalidaya .....dst..,
Note:
jika ada kesamaan nama jangan reaktif dulu. ini kan cuma cerita.
Tersadarnya Jiwaku
Jajan, aku terlalu banyak makan jajan.
1 bungkus, 2 bungkus dan berbungkus-bungkus.
Oh tidak! aku terlalu berlebihan makan jajan.
Ini terlalu boros!
Uh berlebihan! Allah tidak sukaberlebihan.
Kasihan ibuku dan bapakku kalau aku terlalu boros.
Orang tuaku,
apa ya? Emm oiya...
Aku sering bandel. Tidak mengindahkan nasihat orangtuaku.
Seharusnya aku tidak begitu.
Malas, iya mals.
ini bagaikan monster yang bergentayangan.
sungguh tipu daya setan begitu menyesatkan.
Hingga aku lalai untuk belajar, mengaji,
bahkan yang bahaya lagi adalah aku lalai untuk menegakkan sholat.
Kenapa begini?? Ini amat tidak baik.
Tidak bisa dibiarkan!!! Astaghfirullah.
Selama ini aku lupa akan ajaran-ajaran Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.
Nabi kita umat Islam.
Seharusnya aku mematuhi ajaran Nabiku Muhammad SAW.
Seharusnya aku menyisihkan uangku untuk berinfaq dan bersedekah.
Seharusnya aku menghormati orang tuaku.
Seharusnya aku menepis malas dan menbungnya jauh-jauh.
Seharusnya aku rajin belajar, mengaji dan menegakkan shalat, karena shalat adalah tiang agama.
Niscaya runtuhlah semua belengu-belengu yang mengikatku.
aku bertekad untuk menjunjung tinggi apa yang telah diajarkan oleh Rasulku Muhamman SAW.
Note:
Dipentaskan oleh: Wanda Arisa, Vivi Fahrunnisa, Jazila, Silvi wijayanti dan Nur cahyanti pada acara kunjungan persahabatan ke TPQ at-Taqwa Ngering-Cerme.
1 bungkus, 2 bungkus dan berbungkus-bungkus.
Oh tidak! aku terlalu berlebihan makan jajan.
Ini terlalu boros!
Uh berlebihan! Allah tidak sukaberlebihan.
Kasihan ibuku dan bapakku kalau aku terlalu boros.
Orang tuaku,
apa ya? Emm oiya...
Aku sering bandel. Tidak mengindahkan nasihat orangtuaku.
Seharusnya aku tidak begitu.
Malas, iya mals.
ini bagaikan monster yang bergentayangan.
sungguh tipu daya setan begitu menyesatkan.
Hingga aku lalai untuk belajar, mengaji,
bahkan yang bahaya lagi adalah aku lalai untuk menegakkan sholat.
Kenapa begini?? Ini amat tidak baik.
Tidak bisa dibiarkan!!! Astaghfirullah.
Selama ini aku lupa akan ajaran-ajaran Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.
Nabi kita umat Islam.
Seharusnya aku mematuhi ajaran Nabiku Muhammad SAW.
Seharusnya aku menyisihkan uangku untuk berinfaq dan bersedekah.
Seharusnya aku menghormati orang tuaku.
Seharusnya aku menepis malas dan menbungnya jauh-jauh.
Seharusnya aku rajin belajar, mengaji dan menegakkan shalat, karena shalat adalah tiang agama.
Niscaya runtuhlah semua belengu-belengu yang mengikatku.
aku bertekad untuk menjunjung tinggi apa yang telah diajarkan oleh Rasulku Muhamman SAW.
Note:
Dipentaskan oleh: Wanda Arisa, Vivi Fahrunnisa, Jazila, Silvi wijayanti dan Nur cahyanti pada acara kunjungan persahabatan ke TPQ at-Taqwa Ngering-Cerme.
Subscribe to:
Posts (Atom)
